TANTANGAN 10 HARI (T10H ) BUNDA SAYANG - KOMUNIKASI PRODUKTIF - HARI KETIGA

by - March 31, 2019


Hari-3:

Saya heran, mengapa belum ada komunikasi produktif yang saya terapkan hari ini. Padahal seharian saya menghabiskan waktu dengan keluarga. Mulai siaran radio di MqFM sampai silaturahim ke rumah teman suami. Sampai menjelang malam, belum ada juga ide yang muncul nanti laporan bunsay mau dibuat gimana. Selepas maghrib, saya mengusulkan ke suami untuk pergi ke event out of the boox berhubung lumayan dekat dengan posisi kami saat itu. Tubuh sih rasanya udah capek, tapi rasa penasaran melihat sale buku mengalahkan segalanya. Hah ha

Tiba di lokasi, kami langsung menuju spot buku anak. Baris demi baris kami lalui sambil sesekali membuka isi buku yang menarik. Meira pun senang membaca buku yang diminatinya. Ayahnya juga berjalan-jalan sendiri melihat buku yang diminatinya. Sampai akhirnya, di spot buku import. Jeng jeng. Ulala. Ada beberapa jenis buku yang rawan. Benar saja, Meira langsung mengambil sound book gitar yang sedang trend di BBW Jakarta kemarin. Langsung dipeluknya buku gitar itu. Apalagi ada sesuatu yang memancing mata. Sebuah kotak berwarna ungu yang berlubang di tengahnya terlihat kuda pony cantik warna ungu. Intuisi saya mengatakan, “ini Meira pasti minta. Hmm.. bisa dipraktekkan ini komunikasi produktifnya.” Selain rasa tertantang, ada juga sih rasa penasaran emaknya pingin lihat apa sih isi dari kuda pony itu. Wkwkwk

Saya ambiil lah kotak kuda pony warna ungu itu, “Oh, ini buku cerita plus mainan clay sejenis playdoh.” Batinku. Sangat lucu bentuk koper dengan wajah cute pony ungu.




“Mau ituuuuuuu,” Meira teriak sangat antusias. “Koper kuda pony….” Dia langsung berusaha meraih untuk melihatnya. Saya biarkan dia melihatnya. “Ma, Kak Meira mau koper kuda Pony..” pintanya. “Kakak mau ini?” tanyaku dengan tenang.”iya ma.” Jawabnya dengan mantap. “Coba kakak tanya sama ayah.” sambil menunjuk lokasi ayahnya berada. Benar saja, Meira langsung ngacir mencari ayahnya. Sebenernya saya merasa iba membuat situasi yang membuatnya berharap seperti itu, apalagi sepertinya kondisi badan Meira yang biasanya full charged juga terlihat sudah mulai lelah karena lumayan gerah juga di dalam gedung itu.

Ntah apa yang dibilangnya kepada ayahnya, saya lanjut mencari buku yang kira-kira saya butuhkan. Saya biarkan saja momen dia berusaha merayu ayahnya sampai beberapa saat. Sudah merasa cukup, saya ingin mengajak pulang. Saya ketemu ayahnya, tetapi tidak melihat Meira. “Mana Meira, yah?” tanyaku. “tuh, nyariin mama.” Jawabnya seraya menunjuk sisi lain jalur di sebelah kiri. Meira kelihatan celingukan kesana-kemari mencari berlawanan arah. Saya samperin akhirnya ketemu ia langsung menggandengku. “maaaa.. dimana koper pony nya…” wajahnya kelihatan bingung. “kakak tarok dimana?” tanyaku. “ga tau.”balasnya.

“Ponynya besok lagi ya..” kata ayahnya. Kami terus berjalan menuju kasir. Meira mulai mengeluarkan emosinya seperti yang saya prediksi. “PONIIIIIIII…… MAU PONIIIIIIII…..hu hu maaaaaa.. Poniiii…” tangisnya mulai pecah dan keliatan sekali sudah mengantuk. Saya mencoba untuk tenang, karena biasanya kalau dia sudah benar- benar ngantuk mau apa yang kita bilang pasti mental. Ada sedikit rasa khawatir apakah bisa menerapkan komunikasi produktif pada situasi seperti itu. Meira tetap menangis dan mulai menarik perhatian pengunjung lainnya. Ayahnya mulai menggendong Meira supaya lebih tenang, saya dengan sigap membayar buku-buku yang sudah saya pilih tadi sambil mengelus-elus punggung Meira.

Saya dan suami tetap tenang, sambil mengelus-ngelus kepala Meira yang ada di gendongan ayahnya. Tiba di mobil, Meira minta saya duduk bersamanya di kursi belakang. Karena memang sudah mengantuk dan perlu ditenangkan, saya pun mengiyakan. Jam menunjukkan pukul 20.10 WIB, waktu biasanya dia mulai mengantuk. Mungkin hari ini ia ngantuk lebih awal karena sudah asyik bermain seharian di luar. Saya masih memeluk dan mengelus Meira sampai tenang. Lalu mulailah saya buka pembicaraan, “Kakak sedih?” Meira menjawab dengan anggukan. “Kakak mau koper kuda poni?” lanjutku. “iyaaa. Huuu.” Dia mulai menangis lagi. “lho.. kakak kan udah punya koper merah di rumah.” Saya mengajaknya berpikir. “kakak ga mau koper yang merah, dikasihkan ke anak yang di panti asuhan aja.” Suaranya sudah kembali bijak tanpa tangisan. Wah.. saya terkesan ini anak mikirnya mau berbagi ke temannya, walaupun modus untuk mendapatkan apa yang diinginkan.hihi

“Kakak, kalau kakak mau berbagi itu bagus.” Sambil ngelus-ngelus kepalanya. “kalau kakak mau beli koper kuda poni, kakak nabung dulu. Di rumah ada dua celengan kan?” Meira mengangguk. “yang besar buat kak Meira, yang kecil gambar kapal buat dibagikan ke teman. Kalau yang besar udah penuh, kita beli koper kuda poninya, ya?” jelasku sambil memeluknya. Meira mengangguk tanda sudah menerima apa yang terjadi padanya malam ini. Alhamdulilah  Meira tenang di sepanjang perjalanan sambil saya pijitin kakinya yang katanya sakit dan akhirnya Meira tertidur pulas.  

Begitulah cerita hari ini, orang tua harus belajar tega dan tetap tenang dalam mendidik anaknya mengendalikan/ menahan keinginan yang belum bisa didapat, supaya di masa dia beranjak dewasa ia bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Alhamdulillah saya hari ini bisa: 
·         mengendalikan emosi
·         intonasi suara ramah
·      jelas dalam memberikan pujian (tetapi saya belum mengatakan kritik bahwa saya tidak suka akan perilakunya meminta dengan cara nangis-nangis di depan umum karena saat itu memaklumi kondisi Meira yang sudah sangat mengantuk)
·         mengatakan keinginan
·         menunjukkan empati
·         observasi
·         kaidah 7-38-55


  


  


You May Also Like

0 comments